MOTTO: Our strongest bond (Alumni ITB77) is friendship and togetherness. Bukan bisnis, sukses materi, kekuasaan atau pencitraan. ~ Amrie Noor
Labels:
Dana Pamilih,
Goenarso Goenoprawiro,
Made Astana,
Setyobudi Tariadi
Masyarakat yang bebas bunga rasanya tidak akan pernah terjadi sampai dunia kiamat, kecuali Allah menghendaki. Paradigma sistem kapitalisme sudah tertanam kuat di negara-negara maju dan sudah ada sejak zaman Renaissance menguasai peradaban dunia. Malah kalau kita melihat ke Taurat dan Injil (Alkitab) praktek bunga uang (usury) ini sudah ada sejak zaman Sebelum Masehi (lebih dari 2.000 tahun yang lalu) dan diharamkan juga. Tapi karena manusia itu tempatnya lupa dan dosa, Allah memperingatkan lagi di Al Qur'an.
Yang paling realistis mungkin sebelum tahun 2100 sistem bunga dan bebas bunga berimbang peminatnya. Kalau sekarang kan masih kira-kira 95% (bunga) : 5% (bebas bunga). Mudah-mudahan saja semakin banyak manusia (semua ras, suku dan agama) di muka bumi ini yang bisa merasakan bahwa sistem bebas bunga lebih menyejahterakan daripada sistem bunga.
Selanjutnya…
Labels:
Dana Pamilih
Sebuah artikel di Far Eastern Economic Review pernah membahas bahwa krisis akhlaklah yang merupakan penyebab krisis global saat ini.
Anatomi krismon (krisis moneter) itu selalu sama: overleverage dan lack of transparency.
Krismon tahun 1998 di Indonesia juga sama anatominya. Ingat bahwa waktu itu sistem perbankan kita mencatat lebih banyak besaran pinjaman daripada deposito. Istilah perbankannya: Loan-to-deposit ratio lebih besar dari 100%. Lack of transparency ialah istilah keren dari pinjaman bodong.
Selanjutnya…
Labels:
Triharyo Soesilo
Pada tanggal 4 Maret 2009 saya berkesempatan pergi bersama ke Bontang dengan salah seorang Chief Financial Officer (CFO) perusahaan dunia yang sedang berinvestasi di Indonesia. Perusahaan yang ia pimpin mempunyai karyawan 15.000 orang di 55 negara dan mendatangkan pendapatan sekitar US$ 7 Miliar per tahun. Perusahaan publiknya termasuk 500 besar di dunia dan kategori 5 besar di Australia. Ia seorang warga negara Australia, akuntan, alumni Harvard dan umurnya masih relatif muda yaitu 44 tahun.
Karena mendapat kesempatan yang relatif langka tersebut, saya memanfaatkan pembicaraan saya pada diskusi tentang penyebab krisis finansial global. Salah satu topik diskusi hangat kami siang itu adalah kenapa sebuah perusahaan AIG bisa rugi US$ 61,7 Miliar dalam 3 bulan. Kerugian perusahaan tersebut merupakan kerugian yang sangat luar biasa dan tertinggi dalam sejarah korporasi Amerika. Angkanya sangat fantastis karena ibaratnya hampir 1,2 x Devisa Indonesia lenyap dalam 3 bulan. Uang sebesar itu bisa untuk melunasi utang krismon kita 2 x lipat hanya dalam tempo 3 bulan. Jika nilai tersebut dibagikan ke setiap orang Indonesia, dalam 3 bulan kita semua mendapat uang tunai Rp 3 juta. Jadi intinya, kerugian tersebut skalanya sangat spektakuler.
Jawaban yang saya peroleh dari sang CFO agak mengejutkan dan mungkin merupakan ”warning” bagi kita semua dalam berbisnis dan berkorporasi. Kira-kira beginilah dialog kami berdua dalam pesawat yang ia carter.
Selanjutnya…
Labels:
Anto Sarosa,
Kristina Tambunan,
Triharyo Soesilo
Terima kasih sekali atas ide Technical Transfer Office (TTO) ini. Saya browse ke semua universitas di dunia, umumnya mereka mempunyai kantor TTO ini. Namanya pun sama yaitu semuanya TTO atau TLO (Technical Licensing Office).
Ternyata ciri-ciri sebuah negara maju, selalu ada TTO di universitas-universitasnya. Mungkin ide ini pulalah yang mendasari Pak Habibie bikin BPPT ataupun para pimpinan ITB bikin PT LAPI atau LPPM.
Selengkapnya…